Nama Lain Al Quran Beserta Dalilnya

Pada kesempatan kali ini kita membahas tentang Nama Lain Al Quran Beserta Dalilnya. Di dalam artikel ini kami mencoba menyampaikan informasi lengkap tentang Nama Lain Al Quran Beserta Dalilnya. Kami telah menyusun artikel kali ini dengan seksama. Harapannya melalui artikel ini mampu memahamkan kita semua tentang Nama Lain Al Quran Beserta Dalilnya dengan baik.

Nama Lain Al Quran Beserta Dalilnya

nama-lain-al-quran-beserta-dalilnya

Allah Ta’ala menyebut Al-Qur’an dengan berbagai nama dan sifat, diantaranya adalah:

Pertama, al-kitab (kitab/buku).

Nama dan sifat ini tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (Al-Baqarah, 2: 2)

Alquran disebut “Al Kitab.” sebagai isyarat bahwa Al-Quran harus ditulis, karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat menulis ayat-ayat Al-Quran.[1]

Kedua, al-huda (petunjuk).

Nama atau sifat ini diantaranya tercantum dalam ayat kedua dari surat Al-Baqarah di atas, juga tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus, 10: 57)

Al-Qur’an disebut al-huda atau hudan (petunjuk), karena ia mengarahkan manusia kepada jalan yang lurus yang menyelamatkan mereka dari keyakinan yang sesat dengan jalan membimbing akal dan perasaan mereka agar berkeyakinan yang benar dengan memperhatikan bukti-bukti kebenaran Allah, serta membimbing mereka agar giat beramal dengan jalan mengutamakan kemaslahatan yang akan mereka dapati dari amal yang ikhlas serta menjalankan aturan hukum yang berlaku, mana perbuatan yang boleh dilakukan dan mana perbuatan yang harus dijauhkan.[2]

Ketiga, al-furqan (pembeda).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan, 25: 1)

Al-Qur’an disebut dengan “Al-Furqan” karena Al-Quran itu adalah pembeda yang hak dan yang batil, antara petunjuk dan kesesatan, dan berbeda dengan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Kitab-kitab yang sebelumnya diturunkan hanya untuk suatu umat di masa itu tetapi Al-Quran diturunkan untuk seluruh umat manusia di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seterusnya sampai hari kiamat, karena nabi-nabi sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diutus untuk kaumnya sedang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk manusia di segala masa dan di semua tempat.

Keempat, ar-rahmah (rahmat).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam surat Yunus ayat 57 di atas, juga tercantum falam firman Allah Ta’ala,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Al-Isra, 17: 82)

Al-Qur’an disebut “Ar-Rahmah” karena Al-Qur’an merupakan karunia bagi orang-orang yang meyakini dan melaksanakan petunjuk-petunjuknya. Mereka akan merasakan nikmatnya hidup di bawah naungan Al-Qur’an; hidup tolong-menolong, sayang menyayangi, bekerja sama dalam menegakkan keadilan, menumpas kejahatan dan kekejaman, serta saling bantu-membantu untuk memperoleh kesejahteraan.

Kelima, an-nur (cahaya).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (An-Nisa, 4: 174)

Al-Qur’an disebut “An-Nur” karena Al-Qur’an merupakan cahaya yang terang benderang yang memberi petunjuk kepada manusia, mengeluarkan mereka dari kegelapan syirik— penyembahan kepada berhala, binatang dan matahari bahkan penyembahan arwah-arwah—kepada cahaya iman. Mengeluarkan mereka dari berbagai macam paham yang sesat dan menyesatkan; memberikan pedoman sehingga manusia dapat berpikir kembali dan menyadari bahwa jalan yang mereka tempuh selama ini adalah jalan salah yang membawa kepada kerusakan dan keruntuhan.

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Alquran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu” (Al-Hadid, 57: 9)

Keenam, ar-ruh (Roh).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (As-Syura, 42: 52)

Al-Qur’an disebut “Ar-Ruh”—menurut Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, dalam Zubdatut Tafsir—karena Al-Qur’an memberi petunjuk kepada manusia; didalamnya terdapat kehidupan dari kematian kekafiran. Dalam Tafsir Jalalain disebutkan, kata ‘ruhan’ dia adalah Al-Qur’an yang dengannya hiduplah kalbu-kalbu (manusia, red.).[3]

Ketujuh, asy-syifa (obat).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala surat Yunus ayat 57 dan surat Al-Isra ayat 82 yang telah disebutkan di atas.

Al-Qur’an disebut “Asy-Syifa” karena di dalam Al-Qur’an terdapat obat bagi segala penyakit keraguan, kemusyrikan, kemunafikan, syahwat, dan syubhat.[4] Termasuk pula semua penyakit jiwa yang mengganggu ketentraman manusia, seperti putus harapan, lemah pendirian, memperturutkan hawa nafsu, menyembunyikan rasa hasad dan dengki terhadap manusia, perasaan takut dan pengecut, mencintai kebatilan dan kejahatan, serta membenci kebenaran dan keadilan.[5]

Kedelapan, al-haq (kebenaran).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu’”. (Yunus, 10: 108)

Al-Qur’an disebut “Al-Haq” karena Al-Qur’an mengandung kebenaran yang tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya. Al-Qur’an mengungkapkan bukti-bukti keesaan Allah dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, menguraikan tentang rasul-rasul zaman dahulu dan dakwah mereka; di dalamnya terkandung pedoman-pedoman hidup bagi manusia untuk memperoleh kesejahteraan duniawi dan kebahagiaan akhirat.[6]

Kesembilan, al-bayan (penjelasan).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَقُرْآنٍ مُبِينٍ

“Alif, laam, raa. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat- ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Al Qur’an yang memberi penjelasan.” (Al-Hijr, 15: 1)

Al-Qur’an disebut “Al-Bayan” karena Al-Quran memberikan penjelasan tentang petunjuk untuk keluar dari kesesatan, serta menerangkan berbagai hikmah dan hukum; tentang ketauhidan, kisah-kisah, budi pekerti yang baik, ilmu pengetahuan, janji Allah dan ancaman-Nya, hukum-hukum yang menjadi pedoman bagi manusia dalam hidup dan kehidupannya di dunia dan di akhirat nanti.[7]

Kesepuluh, al-mauidzah (pelajaran).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam surat Yunus ayat 57 yang telah disebutkan di atas, juga disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَمَثَلاَ مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (An-Nur, 24: 34)

Al-Qur’an disebut “Al-Mauidzah” karena Al-Qur’an mengandung pelajaran-pelajaran yang indah yang dapat memperbaiki akhlak dan amal perbuatan manusia. Didalamnya disebutkan tentang balasan-balasan (amal, red.) yang disampaikan dengan targhib (mendorong atau memotivasi untuk mencintai kebaikan, red.) dan tarhib (menimbulkan perasaan takut).[8]

Kesebelas, ad-dzikr (pemberi peringatan).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Al Hijr: 9).

Al-Qur’an disebut “Adz-Dzikr” karena Al-Qur’an merupakan peringatan tentang berbagai permasalahan, juga merupakan dalil-dalil yang jelas yang di dalamnya terdapat pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran.[9]

Demikian tadi adalah artikel tentang Nama Lain Al Quran Beserta Dalilnya. Kami berharap yang sedikit ini mampu menambah wawasan kita semua. Juga semoga artikel tentang Nama Lain Al Quran Beserta Dalilnya ini memberi manfaat untuk kita semua. Silahkan bagikan artikel ini kepada orang lain jika menurut anda artikel ini akan berguna bagi orang lain juga. Anda juga bisa berlangganan di blog kami melalui email jika anda berkenan. Terimakasih sudah berkunjung di blog kami.

Catatan Kaki

[1] Lihat: Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Jilid I, Hal. 36
[2] Lihat: Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Jilid IV, Hal.330.
[3] Lihat: Zubdatut Tafsir dan Tafsir Jalalain hal. 489.
[4] Lihat: Tafsir Muyassar, Aidh Al-Qarni, Jilid II, Qisthi Press, hal. 198.
[5] Lihat: Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Jilid IV, Hal. 330.
[6] Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 4, Pustaka Imam Syafi’i, hal. 320 dan Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Jilid 4 , hal. 374.
[7] Lihat: Tafsir Al-Maraghi, Juz 14, hal. 4, Daru Ihyau Turats Al-Arabi, Beirut dan Al-Qur’anul Karim wa Tafsiruhu, Jilid V, hal. 198.
[8] Lihat: Tafsir Al-Maraghi, Juz 11, hal. 122, Daru Ihyau Turats Al-Arabi, Beirut dan Zubdatut Tafsir, hal. 215, Darun Nafais, Yordania.
[9] Lihat: Tafsir As-Sa’di di http://quran.ksu.edu.sa/
sumber: al-intima.com

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *