Tata Cara Istinja dalam Islam

Pada kesempatan kali ini kita membahas tentang Tata Cara Istinja dalam Islam. Di dalam artikel ini kami mencoba menyampaikan informasi lengkap tentang Tata Cara Istinja dalam Islam. Kami telah menyusun artikel kali ini dengan seksama. Harapannya melalui artikel ini mampu memahamkan kita semua tentang Tata Cara Istinja dalam Islam dengan baik.

Tata Cara Istinja dalam Islam

tata cara istinja dalam islam

Istinja adalah wajib setelah buang air kecil dan buang air besar. Yang lebih utama adalah istinja dengan batu dan diikuti dengan air, namun boleh jika hanya dengan air atau dengan tiga batu saja yang dapat membersihkan tempat (yang terkena najis). Jika hanya menggunakan salah satunya, maka air lebih utama dari batu.

(Saat buang hajat) jangan menghadap kiblat atau membelakanginya di padang pasir (tempat terbuka), juga jangan kencing di air tergenang, di bawah pohon berbuah, di jalanan, di lobang (pada tanah), di mata air, di tepi jalan, di tempat bernaung, jangan berbicara saat buang air kecil dan besar, jangan menghadap matahari atau bulan dan jangan membelakanginya.

Penjelasan:

Yang dimaksud Istinja adalah membersihkan najis/kotoran dari tempat keluarnya. Hukumnya wajib, baik dikaitkan dengan shalat/ibadah, atau tidak.

Dalam kajian fiqih, selain istilah istinja, juga ada istilah lain dengan makna dan maksud yang sama, di antaranya; istithobah, istijmar atau istibra…

Istinja dapat dengan menggunakan batu, walaupun ada air. Kedudukannya bukan seperti tayammum yang baru dibolehkan apabila tidak ada air atau terhalang menggunakan air. Akan tetapi, menggunakan air memang lebih utama.

Selain batu, dapat digunakan benda-benda lain untuk istinja selain air, dengan 3 catatan;

  • Bendanya tidak najis
  • Dapat meresap atau menghilangkan najis, seperti tissue
  • Bukan sesuatu yang berharga, spt uang, dll.

Terkait adab buang hajat, ada beberapa yang belum disebutkan pengarang, di antaranya membaca doa saat masuk dan keluar WC, mendahulukan kaki kiri saat masuk, tidak membawa sesuatu yang di dalam terdapat asma Allah, tidak buang hajat di tempat terbuka, tidak berdiri jika memungkinkan, dll.

Terkait larangan buang hajat menghadap matahari dan bulan atau membelakanginya, di antara para ulama dalam mazhab Syafii berbeda pendapat antara yang mengaggapnya makruh dengan yang tidak. Yang lebih kuat hukumnya adalah mubah.

Demikian tadi adalah artikel tentang Tata Cara Istinja dalam Islam. Kami berharap yang sedikit ini mampu menambah wawasan kita semua. Juga semoga artikel tentang Tata Cara Istinja dalam Islam ini memberi manfaat untuk kita semua. Silahkan bagikan artikel ini kepada orang lain jika menurut anda artikel ini akan berguna bagi orang lain juga. Anda juga bisa berlangganan di blog kami melalui email jika anda berkenan. Terimakasih sudah berkunjung di blog kami. Oleh Ust Abdullah Haidir

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *